Sontang, Rokan Hulu — Di sebuah desa yang dulu identik dengan keterbatasan, berdirilah kisah tentang seorang pemimpin yang memilih bekerja dalam diam. Namanya Zulfahrianto, SE, atau yang akrab disapa Anto Sontang, Kepala Desa Sontang sekaligus sosok yang pengabdiannya kini dirasakan seluruh warga tanpa harus banyak diumumkan.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah isu dan fitnah sempat diarahkan kepadanya. Namun, masyarakat justru menyaksikan hal yang berbeda. Mereka menyaksikan perubahan nyata yang tidak dapat disangkal. Mereka melihat pembangunan yang berdiri kokoh, bukan kata-kata. Mereka merasakan pengorbanan, bukan pencitraan. Mereka melihat pemimpin yang menanggung beban desanya dengan harta, waktu, dan tenaganya sendiri.
Dari Desa Pelosok Menuju Desa yang Mulai Berkembang
Beberapa tahun silam, Desa Sontang berada dalam kondisi yang jauh dari ideal. Infrastruktur terbatas, jalan berlumpur, dan fasilitas umum masih minim. Banyak warga kesulitan beraktivitas ketika hujan, karena akses jalan yang tidak memadai. Sontang kala itu terlihat seperti desa yang berjalan sendiri mengejar ketertinggalannya.
Kini kondisi itu berubah. Jalan-jalan desa menjadi lebih layak, kegiatan sosial dan keagamaan tumbuh, dan fasilitas umum menjadi lebih memadai. Desa yang dulunya disebut pelosok kini perlahan membangun identitas baru sebagai desa yang memiliki masa depan.
Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Ada nama yang sering diucapkan warga sebagai salah satu penggeraknya: Anto Sontang.
Masjid Terapung Syekh Muhammad Kayo: Dari Niat Tulus Menjadi Ikon Desa
Salah satu pembangunan yang paling banyak dibicarakan warga adalah berdirinya Masjid Terapung Syekh Muhammad Kayo. Masjid ini dibangun di atas air dengan desain megah yang tidak lazim ditemukan di desa.
Namun yang membuat warga terkesan bukan hanya bentuknya, melainkan sumber pendanaannya: pembangunan masjid ini sepenuhnya dibiayai oleh dana pribadi Anto Sontang.
Tidak ada bantuan pemerintah.
Tidak ada sponsor.
Tidak ada proposal.
Anto mengambil keputusan besar menggunakan hartanya sendiri untuk menghadirkan fasilitas ibadah yang dapat dipakai seluruh lapisan masyarakat.
Warga menyaksikan bagaimana ia memilih lokasi, memantau persiapan, dan memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana. Masjid terapung itu bukan hanya bangunan, melainkan simbol bahwa desa juga bisa memiliki fasilitas megah bila ada kemauan untuk berkorban.
Jalan Desa yang Kini Kokoh dan Layak
Salah satu perubahan yang paling dirasakan warga adalah perbaikan akses jalan. Dahulu, jalan-jalan di Sontang banyak yang berupa tanah dan sulit dilewati saat hujan. Kini, seluruh jalan utama dan sebagian besar jalan lingkungan telah dibeton rapi.
Menurut warga, pembangunan jalan tersebut tidak hanya berasal dari anggaran desa; sebagian besar justru menggunakan dana pribadi Anto Sontang, dengan nilai yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
“Dulu kalau musim hujan kami sangat kesulitan lewat. Sekarang semuanya jauh lebih mudah,” tutur seorang warga.
Peningkatan akses ini mengubah aktivitas warga dari sisi ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan. Anak-anak berangkat sekolah lebih lancar, warga membawa hasil kebun dengan lebih cepat, dan mobilitas lebih terjamin.
Kehadiran yang Selalu Ditunggu Warga
Selain pembangunan fisik, Anto dikenal sebagai sosok yang hadir di banyak situasi warga tanpa diminta. Kehadirannya bukan untuk dipuji, tetapi karena ia memahami bahwa sebagian warga membutuhkan pemimpin yang bisa ditemui kapan saja.
Ketika ada warga yang kesulitan, ia datang.
Ketika ada kegiatan keagamaan, ia membantu.
Ketika ada keluarga yang membutuhkan dukungan, ia mengusahakan.
Ketika ada pembangunan yang harus diawasi, ia turun langsung memastikan kualitas.
Warga menyebut bahwa Anto tidak pernah memperhitungkan balasan. Bila ada yang perlu dibantu, ia membantu semampunya.
“Beliau tidak pernah menolak kalau ada warga yang membutuhkan,” kata salah satu tokoh masyarakat.
Cerita-cerita seperti ini tersebar hampir di setiap dusun. Bantuan biaya, dukungan kegiatan pemuda, renovasi rumah ibadah, hingga bantuan sosial bagi warga yang kesulitan, semuanya sering dilakukan tanpa diumumkan.
Tetap Bekerja di Tengah Fitnah
Dalam beberapa waktu terakhir, isu-isu negatif mencoba diarahkan kepadanya. Namun Anto memilih tidak mengambil langkah konfrontatif. Ia tidak membalas dengan kata-kata, melainkan dengan mempercepat pembangunan yang menjadi kebutuhan warga.
Perbaikan jalan tetap berjalan.
Masjid terapung tetap dilanjutkan.
Kegiatan masyarakat tetap ia dukung.
Program desa tetap ia jalankan.
Bagi warga, respons seperti itu menunjukkan karakter pemimpin yang lebih mengutamakan kerja daripada perdebatan.
“Beliau memilih membuktikan dengan hasil, bukan dengan bicara,” ujar seorang warga.
Perubahan yang Kini Dirasakan Generasi Desa
Hari ini, Desa Sontang berdiri sebagai desa yang jauh lebih tertata dibanding beberapa tahun sebelumnya. Perubahan itu bukan hanya tampak pada infrastruktur, tetapi juga dari cara warga menjalani keseharian.
Anak-anak kini berangkat sekolah melalui jalan yang aman.
Kegiatan keagamaan lebih aktif berkat masjid baru.
Mobilitas ekonomi meningkat karena akses jalan yang membaik.
Hubungan sosial antarwarga lebih dinamis.
Desa yang dulu kerap dipandang tertinggal kini mulai menunjukkan arah kemajuan.
Pengabdian yang Tidak Bisa Dipalsukan
Dalam perjalanan Anto memimpin desa, banyak hal yang ia lakukan tidak pernah ia ceritakan sendiri. Justru warga yang menyampaikan bukti pengorbanan itu. Dan warga pula yang kini merasakan manfaatnya.
“Orang bisa membuat cerita, tetapi pembangunan tidak bisa dibuat-buat,” ujar seorang warga.
“Yang kami lihat hari ini adalah bukti, bukan ucapan.”
Di tengah tantangan dan fitnah yang menghampiri, Anto Sontang tetap berdiri pada satu prinsip: bekerja untuk desa dan mewariskan manfaat yang akan dipakai banyak orang.
Dan itulah yang kini membentuk kisahnya — kisah pengabdian yang berjalan senyap, tanpa gemerlap, tetapi terasa kuat oleh seluruh warga Desa Sontang.


Komentar